Skip to content

Khalifah Umar yang Gila

November 14, 2009

Memang betul, Khalifah Umar bin Khaththab telah berubah ingatan. Banyak yang melihatnya dengan mata kepala sendiri. Barangkali karena Umar di masa mudanya sarat dengan dosa, seperti merampok, mabuk-mabukkan, malah suka mengamuk tanpa berperi kemanusiaan, sampai orang tidak bersalah banyak yangmenjadi korban. Itulah yang mungkin telah menyiksa batinnya sehingga ia ditimpa penyakit jiwa.

Dulu Umar sering menangis sendirian sesudah selesai menunaikan salat. Dan tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak, juga sendirian. Tidak ada orang lainyang membuatnya tertawa. Bukankah hal itu merupakan isyarat yang jelas bahwaUmar bin Kaththab sudah gila?

Abdurrahman bin Auf, sebagai salah seorang sahabat Umar yang paling akrab,merasa tersinggung dan sangat murung mendengar tuduhan itu. Apalagi, hampir semua rakyat Madinah telah sepakat menganggap Umar betul-betul sinting. Dan,sudah tentu, orang sinting tidak layak lagi memimpin umat atau negara.

Yang lebih mengejutkan rakyat, pada waktu melakukan salat Jum’at yang lalu,ketika sedang berada di mimbar untuk membacakan khotbahnya,sekonyong-konyong Umar berseru, “Hai sariah, hai tentaraku. Bukit itu, bukit itu, bukit itu!”Jemaah pun geger. Sebab ucapan tersebut sama sekali tidak ada kaitannyadengan isi khotbah yang disampaikan. “Wah, khalifah kita benar-benar sudah gila,” gumam rakyat Madinah yang menjadi makmum salat Jumat hari itu.

Tetapi Abdurrahman tidak mau bertindak gegabah, ia harus tahu betul, apa sebabnya Umar berbuat begitu. Maka didatanginya Umar, dan ditanyainya,”Wahai Amirul Mukminin. Mengapa engkau berseru-seru di sela-sela khotbahengkau seraya pandangan engkau menatap kejauhan?” Umar dengan tenangmenjelaskan, “Begini, sahabatku. Beberapa pekan yang lewat aku mengirimkan Suriah, pasukan tentara yang tidak kupimpin langsung, untuk membasmi kaum pengacau. Tatkala aku sedang berkhotbah, kulihat pasukan itu dikepung musuh dari segala penjuru. Kulihat pula satu-satunya benteng untuk mempertahankandiri adalah sebuah bukit dibelakang mereka. Maka aku berseru: bukit itu,bukit itu, bukit itu!”

Setengah tidak percaya, Abdurrahman megerutkan kening. “Lalu, mengapa engkau dulu sering menangis dan tertawa sendirian selesai melaksanakan salat fardhu?” tanya Abdurrahman pula. Umar menjawab, “Aku menangis kalau teringat kebiadabanku sebelum Islam. Aku pernah menguburkan anak perempuanku hidup-hidup. Dan aku tertawa jika teringat akan kebodohanku. Kubikin patungdari tepung gandum, dan kusembah-sembah seperti Tuhan.”

Abdurrahman lantas mengundurkan diri dari hadapan Khalifah Umar. Ia belumbisa menilai, sejauh mana kebenaran ucapan Umar tadi. Ataukah hal itu justru lebih membuktikan ketidakwarasannya sehingga jawabannya pun kacau balau?Masak ia dapat melihat pasukannya yang terpisah amat jauh dari masjid tempatnya berkhotbah?

Akhirnya, bukti itupun datang tanpa dimintanya. Yaitu manakala sariah yang kirimkan Umar tersebut telah kembali ke Madinah. Wajah mereka berbinar-binar meskipun nyata sekali tanda-tanda kelelahan dan bekas-bekas luka yangdiderita mereka. Mereka datang membawa kemenangan.

Komandan pasukan itu, pada hari berikutnya, bercerita kepada masyarakatMadinah tentang dasyatnya peperangan yang dialami mereka. “Kami dikepungoleh tentara musuh, tanpa harapan akan dapat meloloskan diri dengan selamat.Lawan secara beringas menghantam kami dari berbagai jurusan. Kami sudah luluh lantak. Kekuatan kami nyaris terkuras habis. Sampai tibalah saat salat Jumat yang seharusnya kami kejakan. Persis kala itu, kami mendengar sebuah seruan gaib yang tajam dan tegas: “Bukit itu, bukit itu, bukit itu!” Tigakali seruan tersebut diulang-diulang sehingga kami tahu maksudnya.Serta-merta kami pun mundur ke lereng bukit. Dan kami jadikan bukit itu sebagai pelindung di bagian belakang. Dengan demikian kami dapat menghadapi serangan tentara lawan dari satu arah, yakni dari depan. Itulah awal kejayaan kami.”

Abdurrahman mengangguk-anggukkan kepala dengan takjub. Begitu pula masyarakat yang tadinya menuduh Umar telah berubah ingatan. Abdurrahmankemudian berkata, “Biarlah Umar dengan kelakuannya yang terkadang menyalahi adat. Sebab ia dapat melihat sesuatu yang indera kita tidak mampu melacaknya”

Hikmah :

1.Jangan berburuk sangka hanya karena melihat luarnya saja,boleh jadi keadaan yang sebenarnya justru sebaliknya.

2.Berkat kedekatan dengan Alloh Umar diberi kelebihan oleh Alloh ketika dapat melihat pasukannya yang sedang terjepit,sementara beliau dalam jarak yang sangat berjauhan dengan mereka.

4 Komentar leave one →
  1. rudie permalink
    November 18, 2009 10:48 am

    🙂

  2. heru wiharso permalink
    November 19, 2009 12:14 pm

    Itulah tanda kebesaran Allah yang ditunjukkan melalui Umar, juga membuktikan akan kedekatan Umar dengan Rabbnya.

  3. November 20, 2009 5:22 pm

    Allah mnaqdirkan mlalui lisan RasulNya, Qola Rasul: Innalloha ja’alal haqqo ala lisani umaro wa qolbi,” Sesungguhnya Allah SWT mnciptakan kbenaran mlalui lisan umar dan Hatinya(HR. Imam Ahmad ‘an Abi Huroiroh ra).

    The Question, Bisa dan maukah umat zaman akhir ini mngikuti manhaj slafus sholeh?? Semata-mata berfondasi niat utk mnyelamatkan Ukhwatul muslimin fil ardh?? Khoirunnasi qorni, tsuma ladzina yalunahum2X….

  4. November 20, 2009 5:51 pm

    Karena Umar,Abu Bakar, Utsman, Ali dan ridwanalloh jami’an adl yg trlbh dhlu dlm hal Al Iman, Al Ilmu, Al Amal, Ad Dakwah, Umur dan kcmerlangan berfikir( Al fikru al mustanir).
    maka: Man ahya sunnati faqod ahabani waman ahabani kana ma’i fill jannah.” Brg sp yg mghidupkan,mnjalankn,mndirikan,mlaksanakan sunnahku(Rasululloh Muhammad) brarti ia cinta padaku, n brg sp yg cinta pdku mk ia akn brsamaku d dlm syurga(HR. As Suzji ‘an Anas rahim..) Wa qola:

    Man tamasaku bi sunnati ‘inda fasadi ummati falahu ajrumiati syahiid, arti’y brg sp yg brpgang tguh dgn sunnahku( scara ksluruhan) pd zmn yg tlah rusak maka ia akan mdptkn pahala 100 syahid(HR. Baihaqi).
    Sy dptkan dr bk Khuruj Fi sabilillah.
    Wallohu’alam…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: